close
Content Festival

For a better experience, click the Compatibility Mode icon above to turn off Compatibility Mode, which is only for viewing older websites.

Kuliah Umum Prodi Fisika "Perkembangan Fisika Medis di Indonesia: Prospek dan Kemajuan Teknologi Fisika di Bidang Kese

Diposkan pada 22 Mei 2019

Pembicara Ketua Aliansi Fisikawan Medik Indonesia (AFISMI)

Pada tanggal 3 Mei 2019, Prodi Fisika Universitas Matana telah melaksanakan Kuliah Umum dengan tema "Perkembangan Fisika Medis di Indonesia: Prospek dan Kemajuan Teknologi Fisika di Bidang Kesehatan" dengan mengundang Bapak Supriyanto A.Pawiro, M.Si, Ph.D dari FMIPA UI yang juga merupakan Ketua Aliansi Fisikawan Medik Indonesia (AFISMI). Acara ini diselenggarakan pada pukul 10.00 - 12.00 WIB. Kuliah Umum dibuka dengan sambutan dari Kaprodi Fisika, Drs. Tumpal Pandiangan, M.T., M.Kom., dengan penjelasan dan pengarahan kepada mahasiswa Prodi Fisika mengenai Perkembangan Fisika Medis di Indonesia. Setelah sambutan disampaikan oleh Kaprodi selanjutnya materi kuliah umum dibahas lebih lanjut oleh Bapak Supriyanto.

Para peserta menyimak apa yang disampaikan oleh pembicara

Di awal perkuliahan, Bapak Supriyanto menjelaskan mengenai teknologi muthakhir dalam dunia Fisika Medis, IMRT dan VMAC. Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa peran seorang Fisikawan Medis dalam proses radioterapi adalah menjamin kualitas (quality assurance) terhadap terapi yang menggunakan alat fisika medis, termasuk di dalamnya, penjaminan kualitas dosimetri dan pasca terapi (analisis log file pasien). Sebagai ilmu terapan, fisika medis berhubungan dengan aplikasi fisika untuk diagnosis dan terapi penyakit. Dalam bidang radiodiagnosa Fisikawan Medis bertanggung jawab atas keluaran radiasi terhadap pasien, sedangkan pada bidang radioterapi Fisikawan Medis bertanggung jawab pada tahap penyembuhan kanker pada pasien. Di Indonesia, profesi Fisikawan Medis diakui pertama kali oleh kementrian Kesehatan tahun 2007, dengan SK Menkes. Dalam UU Tenaga Kesehatan No. 34 tahun 2014 Fisikawan Medis masuk dalam rumpun Teknologi Biomedis.

pemberian plakat dan sertifikat oleh Kaprodi Fisika sekaligus Dekan Fakultas STEM Universitas Matana.

Fisikawan Medis memiliki fungsi mandatoris dalam penjaminan mutu penggunaan radiasi untuk terapi dan diagnosa,yang merupakan salah satu pemeran kunci dalam proteksi radiasi. Oleh karena itu, seorang ahli fisikawan medis memerlukan atribut yang meliputi edukasi, pelatihan dan kompetensi, spesialisasi, dan rekognisi formal. Atribut-atribut ini dijelaskan dalam kuliah umum ini, mulai dari rekognisi Fisikawan Medis dalam peraturan-peraturan Negara, edukasi formal di universitas serta pelatihan dan sertifikasi profesi untuk Fisikawan Medis. Terdapat berbagai asosiasi Fisikawan Medis yang memiliki peranannya masing-masing di Indonesia, termasuk dalam melaksanakan pelatihan profesi. Dengan mempelajari ilmu Fisika Medis, mahasiswa berpeluang untuk bekerja sebagai Fisikawan Medik Klinis, Dosen/Peneliti, Birokrat, spesialis produk atau pendukung teknis di perusahaan alat kesehatan, bagian marketing alat kesehatan, serta di lembaga internasional seperti International Atomic Energy Agency (IAEA) dan Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty Organization (CTBTO).

Setelah peserta berdiskusi bersama Bapak Supriyanto mengenai materi yang diberikan, akhirnya kuliah umum ini diakhiri dengan pemberian plakat dan sertifikat oleh Kaprodi Fisika sekaligus Dekan Fakultas STEM Universitas Matana. Dengan keterbukaan Bapak Supriyanto, Prodi Fisika Universitas Matana berharap kegiatan ini dapat mempererat jalinan relasi dengan Departemen Fisika FMIPA UI dan juga AFISMI. Dengan adanya konsentrasi Fisika Medis, Prodi Fisika Universitas Matana berharap dapat berkontribusi dalam menyediakan calon-calon profesional di bidang Fisika Medis di Indonesia. Sedangkan melalui kerja sama dengan Departemen Fisika FMIPA UI dan AFISMI, Prodi berharap dapat dukungan dalam mempersiapkan lulusan Prodi di Bidang Fisika Medis yang kompeten dan berpengetahuan.